Boltim, PilarAktual.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Timur (Boltim) kembali mengirimkan pesan tegas: perang melawan stunting belum selesai.
Dimana, Senin (22/9/2025), lantai 1 Kantor Bupati Boltim dipenuhi jajaran pejabat, tokoh masyarakat, hingga tenaga kesehatan.
Semua berkumpul untuk satu agenda penting Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) Tahap II Aksi Konvergensi Stunting.
Di hadapan hadirin, Bupati Oskar Manoppo secara resmi mengukuhkan Tim TP3S periode 2025–2029.
Hadir mendampinginya Wakil Bupati Argo V. Sumaiku, Ketua TP-PKK Rosita Manoppo-Pobela, Ketua DPRD Samsudin Dama, Sekda M. Iksan Pangalima, hingga unsur Forkopimda.
Bahkan lembaga vertikal seperti BPS, BPJS Kesehatan, Kemenag, TNI-Polri, hingga Pengadilan Agama ikut terlibat.
Dalam pidatonya, Bupati Oskar langsung menyoroti capaian membanggakan.
“Boltim berhasil menurunkan prevalensi stunting secara signifikan. Dari target 2024 sebesar 12,76% turun menjadi 9,6%. Berdasarkan data nasional, angka stunting Boltim bahkan melorot dari 28,4% menjadi 18,8%,” tegasnya.
Capaian ini menempatkan Boltim sebagai kabupaten dengan penurunan stunting terbaik di Sulawesi Utara.
Meski begitu, Oskar mengingatkan agar semua pihak tidak terlena.
“Ini prestasi besar, tapi bukan alasan untuk berhenti. Justru kita harus bekerja lebih keras agar tidak ada anak Boltim yang tertinggal,” ucapnya.
Oskar menekankan bahwa kunci keberhasilan ada pada kolaborasi lintas sektor.
Ia menyebut peran pemerintah desa, PKK, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sebagai barisan terdepan.
“Kita harus bergerak bersama. Ini bukan hanya program pemerintah, tapi gerakan bersama. Anak-anak Boltim harus tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas,” tambahnya.
Agenda Rakor kali ini juga menghadirkan Murphy Eldy Kanly Kuhu, STP dari TPPS Sulut.
Murphy menekankan pentingnya rencana kerja yang jelas dan analisis tajam agar intervensi stunting benar-benar tepat sasaran.
“Intervensi tidak boleh berhenti di tataran kebijakan. Harus sampai ke rumah tangga sasaran—ibu hamil, bayi, dan balita. Semua bergerak, satu tujuan,” katanya.
Rapat ditutup dengan pernyataan optimistis dari Bupati Oskar Manoppo.
Ia ingin Boltim menjadi role model daerah bebas stunting di Sulawesi Utara.
“Mari kita jadikan Boltim sebagai daerah yang melahirkan generasi emas, bebas stunting, dan mampu bersaing di masa depan,” pungkasnya.
Dengan pengukuhan TP3S 2025–2029, Pemkab Boltim yakin program penurunan stunting tak lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan nyata dirasakan oleh setiap keluarga.
















