Manipulasi (tipu-tipu)

  • Whatsapp

Oleh : Maimun Ramli
(Pegiat Kebijakan Publik/Alumni FH Unimal)

Aktivitas manipulasi adalah upaya atau perbuatan yang dapat menyelamatkan pelakunya sesaat. Manipulator (penipu) menyukai dan menguasai segala hal, bahkan bidang yang dia tidak memiliki kompetensi sekalipun.

Bacaan Lainnya

Bila untuk kebutuhan personal, daya tahan manipulasi memungkinkan lebih lama, namun bila kemudian keperluan itu menyangkut hajat dan mengganggu aktivitas orang lain/ public, maka bagi pelakunya akan sangat berbahaya, dalam istilah yang berkaitan dengan conflict interest/ kepentingan dapat dimaknai sebagai “bom waktu” terhadap manipulator itu sendiri.

Manipulasi adalah proses rekayasa yang secara disengaja dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah sumber informasi, subtansi, realitas, kenyataan, maupun fakta-fakta (rujukan).

Bila kemudian hal yang dimanipulasikan itu merupakan aib, maka ketika aib tersebut dimanipulasikan terciptalah aib baru, secara tidak langsung prilaku tersebut telah menampilkan wajah manipulator kepada public tentang adanya pengeseran fundamental dari alam bawah sadar “pikirannya”, sehingga dia sama sekali tidak merasa terbebani dengan bom waktu yang dia ciptakan sendiri.

Kehadiran manipulator akan sangat berbahaya ketika ada kelompok sosial “secara sadar” berupaya menjadikannya sebagai Lord/ Leader. Agar hal ini tidak terjadi maka perlu upaya bersama untuk menekan kehadirannya.

Conflict interest yang telah lama dipertontonkan oleh negara (penguasa) dalam menjatuhkan oposisinya, seharusnya menjadi referensi bagi kita yang hendak menjadi pemimpin di kelompok sosial kita. Sekuat apapun oposisi, oposisi akan tumbang dengan persoalan integritas, maka integritas itu hal utama yang harus dijaga dalam ber-oposisi.

Berhasil memanipulasi sesuatu perkara, bukan berarti pelakunya berhasil memperdayakan orang lain. “Lagei sabda ureung tuha jameun, meunyoe tapeungeut goep, yang keunoeng peungeut kateuntei droe keudroe”, yang jeip madu jiet keu ubat, yang jeip tuba kateuntei ceulaka.

Hakikatnya semua manusia punya aib, akan tetapi menutupi aib dengan menciptkan aib baru hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang perlu perawatan mental dan perhatian khusus.