Pembaca, saya beranjak pada tulisan Pasrah. Serdadu satu ini menuliskan, kebijakan Bupati SSM memberhentikan ratusan THL demi menjaga stabilitas keuangan daerah akibat dampak Pandemi Covid 19. Sebagai pemegang tampuk pemerintahan yang baru, SSM-OPPO butuh anggaran untuk merealisasikan visi-misinya sebagaimana dijanjikan semasa kampanye Pilkada lalu.
Perlu diketahui bahwa masa paling kritis keuangan daerah terjadi di akhir pemerintahan Sehan Landjar, 2020. Selain ‘launching’ Pandemi Covid 19, di masa itu juga digelar Pilkada yang tentu makin menguras keuangan. Namun, Sehan tak merumahkan THL sebanyak ini sebagai solusi menjaga stabilitas keuangan daerah. Makanya, saya katakan: Bupati Sachrul belajarlah ke Bupati Guhanga Sehan Landjar.
“Lebih parah mana, merumahkan ratusan THL untuk sementara, atau membiarkan masyarakat Boltim terpapar virus kemudian meninggal dunia, tanpa dilihat dan didoakan keluarga? Saya rasa senior lebih paham akan nilai kemanusian.” Tulis Pasrah. Dia menawarkan pilihan yang spontan membuat saya teringat dengan perkataan salah satu warga Desa Togid, Idham ‘Lasido’ Mokodompit: takut akan hantu, terpeluk akan mayat.
Baca juga: Besok, Bupati Sachrul Mamonto dan Wabup Oskar Manoppo Dilantik Gubernur Sulut
Saya tak perlu menjelaskan lagi di sini. Silahkan baca kembali tulisan Cerita Horor Honor Boltim. Di situ ada pertimbangan-pertimbangan yang bisa diambil Pemkab jika tak berniat merubah THL menjadi pengangguran. Di tulisan itu, anda akan dapatkan gambaran bagaimana terhindar dari hantu sekaligus tidak terpeluk mayat.
















