Secara teoritis saya sepakat dengan argumentasinya itu. Namun, apakah dia tahu situasi saat ini? Apakah dia tahu bahwa disaat terjadi pemberhentian 500 lebih THL, secara bersamaan terjadi perekrutan? Kepada Fiko saya bersedia menunjuk hidung satu per satu THL wajah baru di Pemkab Boltim yang saya maksud. Selanjutnya saya menanti penjelasan dia apakah keberadaan mereka sebagai THL baru karena faktor kedekatan, faktor clan, ataukah faktor transaksi politik pasca Pilkada sebagaimana dia sebutkan diatas.
Di akhir tulisannya, Fiko kembali mempertegas bahwa SSM-OPPO yang baru menjelang dua bulan pemerintahannya bertekad untuk memutus rantai nepotisme yang menurutnya terjadi di pemerintahan Sehan Landjar selama satu dekade. “Sebab SSM-Oskar baru 1 bulan efektif bekerja, sementara rezim sebelumnya 10 tahun membangun sebuah tatanan yang cenderung nepotisme. Maka hal ini tidak harus dilanjutkan! Justru harus diputuskan.”
Di tengah polemik ragam kebijakan dan instruksi non populis yang dilakoni pemerintahan saat ini, tuduhan terhadap pemerintahan Sehan Landjar yang (ditudingnya) sarat KKN, bagi saya hanyalah pengalihan isu saja. Saya kuatir, kondisi yang ada justru bak peribahasa moguman ki sade’ lopa-lopak daun bage’.
Saya bukanlah penyanjung Sehan Landjar sebagaimana yang ditudingkan. Saya pun tak pernah memilih Sehan dalam dua kontestasi Pilkada Boltim. Namun bagi saya, problematika yang dihadapi rakyat Boltim saat ini, membuat banyak pihak pesimistis bahwa SSM-OPPO akan lebih baik dari yang sudah-sudah.
Akhirnya, kepada Serdadu Fiko saya sampaikan, dampingi Panglimamu belajar kepada Sehan Landjar. Jangan lupa sertakan balpoin dan notes, supaya yang diajarinya dapat kalian catat dan cerna dengan baik.
(BERSAMBUNG)
















