Peran Antagonis Para Serdadu (Bagian I)

  • Whatsapp
Peran Antagonis Para Serdadu

Penulis: Chendry Mokoginta

Opini – Mengawali tulisan ini, terlebih dahulu saya (penulis) menyampaikan “Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1442 Hijriah bagi seluruh umat muslim, khususnya yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur”.

Bacaan Lainnya

Pembaca, dua tulisan saya sebelumnya masing-masing berjudul: Surat Terbuka untuk Bupati Boltim yang ditayangkan di media cetak Harian Bolmong Raya edisi Selasa 6 April 2021 dan di media syber https://klik24.id/boltim/surat-terbuka-untuk-bupati-boltim/ serta tulisan saya dengan judul Cerita Horor Honorer Boltim yang ditayangkan oleh tiga media online Sulut: timurexpress.co, DivaNews.co dan PilarAktual.com, direspon oleh empat orang sekaligus dalam tulisan dan media yang berbeda. Karena keterbatasan space dan supaya pembaca tidak jenuh maka tulisan saya ini dimuat bertahap dengan satu judul: Peran Antagonis Para Serdadu.

Tanggapan atas tulisan saya pertama ditulis oleh Retho Bambuena, pria semampai asal Upai, Kota Kotamobagu: https://kroniktotabuan.com/dari-surat-terbuka-hinggal-thl-kakanda-bukan/.

Sebelum masuk ke ‘pokok perkara’ saya perlu sampaikan kepada pembaca bahwa Retho Bambuena bukanlah bagian dari Pemkab Boltim, tidak memiliki legal standing mewakili Pemkab Boltim. Dia adalah jurnalis media syber. Selanjutnya saya tidak meragukan kedekatannya secara personal dengan Bupati Sam Sachrul Mamonto.

Menurut saya wajar jika dia sebagai penulis ikut berselancar pada isu-isu yang tengah hangat di Boltim, tempat dia bekerja mencari nafkah.

Baca Juga: Ratusan Honorer Boltim Dirumahkan, Kebijakkan Ini? Sukses Cetak Pengangguran Berpendidikan

Biar lebih memudahkan pembaca dalam memahami duduk soal yang dipersoalkan, maka saya mengutip bagian-bagian tulisan yang saya anggap penting untuk ditanggapi.

Retho menulis: Kakanda bukan oposisi yang saya hormati, jabatan aparat desa merupakan jabatan pemberian, sederhananya pemberian dalam hal ini dapat diberikan kepada siapapun yang berkompeten dan memiliki kapasitas diwilayah tersebut. Toh, pergantian aparat bukan akhir dari segalanya, mereka yang diganti seharusnya dapat legowo menerima pergantian yang sudah melalui berbagai pertimbangan terutama dalam mensukseskan visi misi pemerintahan. Hal yang sama dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya saat terpilih 5 (lima) tahun yang lalu,” 

Pos terkait