Manado, PilarAktual.com – Majelis Keluarga Besar PERMESTA (MKBP) menggelar diskusi panel bertema “Soemitronomic & Prabowonomic” di Gedung Manado Post, Senin (2/3/2026).
Forum intelektual ini menjadi momentum reflektif dalam memperingati 69 tahun Piagam PERMESTA, sebuah dokumen historis yang menegaskan pentingnya pemerataan ekonomi nasional dan kemandirian daerah.
Diskusi panel tersebut dihadiri puluhan profesor dan doktor dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Utara, antara lain Universitas Sam Ratulangi, Universitas Manado, serta Universitas De La Salle.
Kehadiran para akademisi lintas disiplin ini memperkaya diskursus mengenai arah pembangunan ekonomi nasional ke depan.
Ketua Umum MKBP, Philip Pantouw, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Piagam PERMESTA sejak awal menempatkan industri dan pertanian sebagai pilar utama pembangunan ekonomi, dengan penekanan pada pemberdayaan pengusaha lokal dan distribusi kesejahteraan yang lebih adil.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut relevan hingga kini dan justru semakin kontekstual dalam menghadapi tantangan global.
Pantouw memperkenalkan konsep Soemitronomic, sebuah pendekatan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat, kemandirian produksi nasional, serta penguatan ekonomi daerah.
Ia menilai, Soemitronomic memiliki benang merah yang kuat dengan semangat Piagam PERMESTA, terutama dalam memperjuangkan keadilan ekonomi dan pengurangan ketimpangan antarwilayah.
Diskusi kemudian berkembang pada konsep Prabowonomic, yang dipandang sebagai pengembangan strategis dari Soemitronomic.
Konsep ini menekankan peran negara yang kuat dalam melindungi sektor-sektor strategis, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya nasional, serta memperkuat ketahanan ekonomi melalui swasembada pangan dan energi.
Sejumlah tokoh penting turut memberikan pandangan, di antaranya Kepala Bappeda Sulawesi Utara, Rektor UNSRAT, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama, hingga pengusaha sukses asal Sulawesi Utara.
Mereka membahas peluang implementasi Soemitronomic dan Prabowonomic dalam kebijakan pembangunan nasional, khususnya dari perspektif daerah.
Suasana diskusi berlangsung hangat, terbuka, dan penuh keakraban.
Meski berasal dari latar belakang berbeda, seluruh peserta memiliki tujuan yang sama, yakni merumuskan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui penguatan ekonomi nasional yang berkeadilan.
Momentum ini dinilai membanggakan bagi Sulawesi Utara.
Diskusi panel MKBP bukan hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga ruang strategis untuk menyatukan gagasan dan visi besar membangun Indonesia dari daerah, berlandaskan nilai historis Piagam PERMESTA.
Dengan semangat kebersamaan dan dedikasi tinggi, Philip Pantouw menutup acara dengan pesan optimisme.
“Membangun bangsa harus dimulai dari keberanian berpikir mandiri dan berpihak pada rakyat,” ujarnya. I Yayat U Santi.
















