Mitra, PilarAktual.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Tenggara (Mitra) melalui Dinas Ketahanan Pangan bergerak cepat mengantisipasi gejolak harga bahan pokok, khususnya beras premium yang belakangan ini dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
Melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), pemerintah daerah menggelar pasar murah di sejumlah titik strategis guna menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat.
Pasar murah pertama digelar pada Sabtu (20/7/2025) di Balai Desa, Kecamatan Belang.
Selanjutnya, program serupa dilanjutkan pada Senin (21/7/2025) di tiga lokasi berbeda di Kecamatan Ratahan, yakni di Kelurahan Lowu Dua, Wawali, dan Desa Rasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mitra, Olvie Tambayong, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menekan inflasi yang mengalami peningkatan cukup signifikan.
Ia menyebut bahwa GPM ini tidak hanya bertujuan untuk menurunkan harga, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan pangan menjelang perayaan pengucapan syukur di wilayah tersebut.
“Kami menyediakan ribuan paket sembako yang terdiri dari beras, minyak goreng, dan telur. Semua dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran,” ujar Tambayong kepada PilarAktual.com.
Menurut Tambayong, mulai pekan ini pihaknya juga akan menyalurkan beras kemasan 5 kilogram dengan harga Rp58.000, serta minyak goreng 1 liter seharga Rp15.000.
Beras yang disalurkan merupakan jenis medium, berbeda dengan beras premium yang saat ini mengalami lonjakan harga.
Langkah penyesuaian harga ini, tambah Tambayong, merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan sebagian besar masyarakat.
“Kami hadir untuk membantu masyarakat agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari tanpa harus terbebani harga yang tinggi,” tuturnya.
Penyelenggaraan pasar murah ini juga disesuaikan dengan momentum menjelang perayaan pengucapan syukur, tradisi masyarakat Minahasa Tenggara yang identik dengan peningkatan kebutuhan konsumsi.
Karena itu, GPM tak hanya menjadi alat pengendali harga, tetapi juga bentuk dukungan nyata terhadap budaya lokal.
“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar,” pungkas Tambayong.
















