Mereka telah dikaruniai dua orang anak. Anak pertama berusia sembilan tahun kini duduk di kelas III SD, dan anak kedua berusia empat tahun.
“Anak pertama ‘hasil’ di Jakarta, kalau anak kedua sudah hasil Balukut,” sebut Ade Irawan kepada wartawan, di rumah sederhananya, di Bukit Balukut.
MEREKA ‘BENGKEL’ UNTUK ANAK BALUKUT
Pasangan suami-istri menjadi tenaga pengajar di MI Mis Ma’rif.
Madrasah ini belum memiliki bangunan sendiri. Mereka hanya memanfaatkan kantor UPT yang dialihfungsikan sebagai madrasah.
Bangunan ini hanya berjarak 20 meter dari rumah yang ditinggali Pasutri Ade dan Maimuna.
Anak-anak di Bukit Balukut yang bersekolah MI Mis Ma’arif.
Di disinilah 12 anak Bukit Balukut diajari. Tak hanya mata pelajaran umum dan keagamaan, Ade juga mengambil bagian mengajarkan baca Al-Qur’an kepada anak-anak itu.

Meski menjadi guru di sekolah itu, Ade ternyata tidak mendapatkan gaji. Dia berstatus ‘relawan’ untuk mengajari anak-anak Bukit Balukut.
Tak sepeser pun dia terima dari bakti membebaskan anak-anak Bukit Balukut dari buta huruf, membaca dan menulis.
“Saya terikat kontrak dengan Kementrian Agama sebagai penyuluh, makanya tidak masuk sebagai guru kontrak,” ujar Ade.
Ikatan kontraknya dengan Kemenag berlaku selama lima tahun, terhitung tahun 2019 hingga 2024. Sedangkan sang istri, Maimuna, berstatus guru kontrak hasil seleksi Pemkab Boltim pada Juli 2021.
















