Pilaraktual.com – Bolaang Mongondow, 23 Maret 2026 — Kabupaten Bolaang Mongondow genap berusia 72 tahun. Momentum bersejarah ini bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi titik refleksi perjalanan panjang daerah yang pernah berdiri sebagai kerajaan berdaulat hingga kini berkembang sebagai wilayah otonom dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejarah mencatat, pada 23 Maret 1954, Bolaang Mongondow resmi ditetapkan sebagai kabupaten melalui Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1954. Penetapan ini terjadi setelah pengunduran diri Raja terakhir, Henny Yusuf Cornelis Manoppo, pada 1 Juli 1950, sekaligus menandai bergabungnya Kerajaan Bolaang ke dalam NKRI.
Sebagai tonggak awal pemerintahan modern, Anton Cornelis Manoppo ditunjuk sebagai bupati pertama. Sejak saat itu hingga kini, kepemimpinan daerah telah berganti hingga 15 periode, dengan estafet terakhir berada di tangan Bupati Yusra Alhabsyi bersama Wakil Bupati Dony Lumenta.
Usia 72: Masa Tumbuh Menuju Kematangan
Dalam perspektif pembangunan daerah, usia 72 tahun dinilai sebagai fase menuju kematangan. Ibarat seorang anak yang mulai memasuki masa dewasa, Bolaang Mongondow kini berada pada tahap menemukan identitas dan arah pembangunan yang lebih jelas, terlebih sebagai daerah yang mengalami pemekaran sejak 2007.
Di bawah kepemimpinan Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta, jargon “Bolmong JUARA” (Maju dan Sejahtera) menjadi landasan gerak pembangunan. Keduanya dinilai mulai meletakkan fondasi kuat yang diibaratkan sebagai “landasan pacu” menuju masa depan daerah.
Istilah “maestro” yang disematkan kepada Yusra Alhabsyi bukan tanpa alasan. Dalam pengertian modern, maestro tidak hanya merujuk pada dunia seni, tetapi juga figur yang mampu merancang, mengarahkan, dan mengeksekusi gagasan besar secara konsisten dalam bidang pemerintahan dan pembangunan.
Kado Pembangunan di HUT ke-72
Momentum ulang tahun ke-72 ini juga diwarnai sejumlah capaian yang disebut sebagai “kado pembangunan” dari pemerintah daerah.
Salah satu langkah strategis adalah menghidupkan kembali Perusahaan Daerah GADASERA yang sebelumnya mati suri. Di bawah kepemimpinan Irawan Paputungan bersama jajaran direksi, perusahaan ini mulai melakukan transformasi besar, termasuk penataan ulang aset tanah daerah yang selama ini dikuasai pihak tertentu.
Pendekatan yang dilakukan dinilai humanis dan produktif, karena tidak hanya mengembalikan aset ke pemerintah, tetapi juga memberdayakan masyarakat setempat untuk tetap terlibat dalam pengelolaan sektor pertanian dan perkebunan.
Di sektor pendidikan, pemerintah daerah menghadirkan bantuan perlengkapan sekolah serta layanan bus gratis bagi siswa di wilayah terpencil. Selain itu, rencana pembangunan perguruan tinggi di Bolaang Mongondow menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menariknya, pengembangan kampus berbasis moderasi beragama di wilayah Dumoga Raya tengah digagas, bekerja sama dengan IAIN Manado dan institusi keagamaan lainnya. Kampus ini diharapkan menjadi model laboratorium toleransi di Sulawesi Utara.
Dorongan Ekonomi dan Investasi
Di bidang ekonomi, pemerintah daerah terus mendorong penguatan UMKM melalui bantuan langsung dan pelatihan tenaga kerja mandiri. Langkah ini diarahkan untuk menyentuh kebutuhan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa.
Sementara di sektor investasi dan pertambangan, pemerintah daerah melakukan penataan terhadap perusahaan besar sekaligus mempercepat pembentukan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Kebijakan ini diharapkan memberi perlindungan hukum sekaligus membuka peluang ekonomi bagi penambang lokal.
Penguatan Identitas Budaya
Tak hanya fokus pada ekonomi, pembangunan juga menyentuh aspek budaya. Pemerintah daerah mulai membangun kawasan perkantoran dengan arsitektur khas Komalig—rumah adat Bolaang—sebagai simbol identitas lokal. Upaya ini diperkuat dengan dukungan terhadap penulisan sejarah dan budaya oleh penulis lokal.
Penguatan Identitas Budaya
Tak hanya fokus pada ekonomi, pembangunan juga menyentuh aspek budaya. Pemerintah daerah mulai membangun kawasan perkantoran dengan arsitektur khas Komalig—rumah adat Bolaang—sebagai simbol identitas lokal. Upaya ini diperkuat dengan dukungan terhadap penulisan sejarah dan budaya oleh penulis lokal.
Awal dari Perjalanan Panjang
Berbagai capaian ini dinilai baru sebagai “prakata awal” dari perjalanan panjang kepemimpinan Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta. Publik Bolaang Mongondow masih menantikan keberlanjutan program dan realisasi visi besar yang telah dicanangkan.
Di usia ke-72 ini, Bolaang Mongondow tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga menegaskan arah masa depan.
Selamat Ulang Tahun ke-72 Kabupaten Bolaang Mongondow. Terus melaju menjadi daerah yang JUARA: Maju dan Sejahtera.
Penulis: Hamri Mokoagow
















