PILARAKTUAL.COM, LABUHA – Kemarau ekstrem atau El-nino yang terjadi empat bulan terkahir di Indonenesia, turut menyasar lokasi perkebunan masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara.
Tak sedikit tanaman petani dilaporkan mati akibat kekeringan, dan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Rata-rata tanaman petani yang mati adalah berupa pala, cengkih, kakao, durian, rambutan hingga kelapa.
Situasi ini, mengunggah kegundahan hati Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Halsel, Jimmy Rifky The. Ia meminta pemerintah pusat untuk memberikan sebaran bantuan bibit tanaman kepada petani yang tanamannya mati atau terbakar.
Karena menurut dia, tanaman tersebut merupakan sumber kehidupan. Dari hasil tanaman itu, petani bisa biayai kebutuhan makan sehari-hari, dan pendidikan anak-anak.
“Tanaman itu sumber nafkah, jadi sebaran bantuan harus dilaksanakan dalam waktu yang sangat dekat, yaitu di tahun 2027,” kata Jimmy dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Jimmy mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Maluku Utara termasuk di Halsel, sejak dahulu mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan.
Oleh sebab itu, ia mengusulkan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan), melakukan penyaluran bibit tanaman kepada petani tidak melalui sistem CPCL.
“Kami harap Kementerian Pertanian bisa mencari solusi tata cara pemberian bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana badai El-Nino ini,” ujar Jimmy.
Anggota DPRD Maluku Utara dari Fraksi Nasdem ini menilai penyaluran bantuan lewat sistem CPCL merepotkan petani yang saat ini terdampak bencana badai El-Nino.
Jimmy juga menegaskan bahwa uluran bantuan pemerintah pusat harus menyasar kepada seluruh petani Maluku Utara yang terdampak.
“Kita tidak menginginkan urusan adminstrasi memperhambat petani untuk menanam kembali harapan hidup mereka di kebun. Sehingga penyaluran bantuan bibit tidak boleh ribet,” tandasnya. (**)
















