MitraPemerintahanPeristiwa

Semarak HUT RI ke-80, Desa Bentenan Satu Rayakan dengan Gotong Royong

454
×

Semarak HUT RI ke-80, Desa Bentenan Satu Rayakan dengan Gotong Royong

Sebarkan artikel ini
Desa Bentenan Satu Rayakan dengan Gotong Royong

Mitra, PilarAktual.com – Indonesia tengah bersiap menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2025.

Nuansa merah putih telah menghiasi hampir setiap sudut desa, kota, hingga pelosok negeri.

Semangat kemerdekaan itu diwujudkan lewat upacara bendera, lomba rakyat, hingga hiasan jalan dengan bendera dan umbul-umbul.

Di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, masyarakat Desa Bentenan Satu ikut larut dalam suasana perayaan.

Pemerintah desa pun menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Selamat Hari Kemerdekaan RI ke-80, semoga Indonesia makin maju, makin kuat, dan makin sejahtera rakyatnya,” ujar Hukum Tua Desa Bentenan Satu, Fathan Modeong, ketika ditemui wartawan.

Baca Juga :  Tutup Bimtek PAUD di Manado, Rosita Manoppo Pobela Tekankan Pentingnya Pencegahan Stunting Sejak Dini

Fathan menekankan pentingnya menjaga gotong royong sebagai karakter bangsa. Menurutnya, kebersamaan inilah yang menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat pandemi beberapa tahun lalu.

“Ujian itu justru memperkuat tekad kita untuk bangkit bersama. Sekali merdeka, tetap merdeka! Selalu ada rindu dan kasih untuk NKRI,” ucapnya.

Jejak Proklamasi 1945

Peringatan kemerdekaan tentu tak lepas dari peristiwa bersejarah menjelang 17 Agustus 1945.

Kala itu, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Kabar itu segera sampai ke telinga para pemuda Indonesia. Mereka mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang.

Baca Juga :  Wabup Argo Sumaiku Pimpin Rapat Persiapan Pilsang Boltim 2026, Camat dan Sangadi Diminta Jaga Netralitas

Namun, kelompok tua berpendapat sebaliknya, meminta agar proklamasi ditunda hingga 24 Agustus 1945.

Perbedaan sikap itu berujung pada peristiwa Rengasdengklok, di mana Soekarno dan Hatta “diamankan” oleh para pemuda.

Malam hari setelah kembali ke Jakarta, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo merumuskan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Esok paginya, tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Momen itu menandai lahirnya bangsa yang merdeka, sekaligus menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia untuk berdiri sejajar dengan negara-negara lain.

Semangat yang Terus Menyala

Delapan dekade telah berlalu, namun semangat proklamasi tak pernah padam.

Di berbagai daerah, perayaan HUT kemerdekaan menjadi ajang mempererat persaudaraan.

Baca Juga :  Hadiri RUPS LB Bank SulutGo, Bupati Oskar Manoppo Dukung Penataan Pengurus Sesuai Arahan OJK

Di Desa Bentenan Satu, perayaan dilakukan dengan penuh kebersamaan.

Warga bergotong royong memasang dekorasi, menggelar perlombaan, hingga menyiapkan upacara bendera.

Semua kegiatan itu bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga refleksi bahwa kemerdekaan diperoleh lewat perjuangan dan pengorbanan besar.

Kini, tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan menjadi milik seluruh rakyat.

Semangat 17 Agustus 1945 mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai, melainkan harus terus dihidupi lewat persatuan dan kerja bersama.

Ikuti Saluran PilarAktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow