Kotamobagu, pilaraktual.com – Upaya konkret dalam pengelolaan sampah di Kota Kotamobagu semakin nyata. Pusat Pendidikan Mondowana bersama Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Kotamobagu resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat manajemen sampah berbasis masyarakat, khususnya dari hulu.
Penandatanganan ini dilaksanakan di Aula Makodim 1303 Bolaang Mongondow dan dirangkaikan dengan peluncuran Tantangan 7 Hari Bersahabat dengan Sampah, sebuah aksi kolaboratif tahap awal yang melibatkan pengurus dari kedua lembaga.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Mondowana dan Kwarcab Kotamobagu. Dalam tahap perdana, tantangan ini diikuti oleh pengurus internal sebagai komitmen awal untuk membangun pola pikir bahwa sampah adalah sumber daya, bukan sekadar limbah tak berguna.
Tantangan 7 Hari Bersahabat dengan Sampah: Dari Kesadaran Menuju Aksi
Program ini dirancang untuk melatih kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah secara bijak. Aktivitas harian selama tujuh hari mengajak peserta melakukan aksi sederhana namun bermakna, seperti memilah sampah, mengelola sampah organik, menyetor sampah anorganik ke bank sampah, mengedukasi orang terdekat, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga membuat refleksi publikasi kegiatan mereka.
Peserta diminta mencatat aktivitas melalui Google Form dan mencurahkan refleksi pribadi. Hasil log akan dievaluasi oleh tim gabungan untuk memilih 10 peserta terbaik yang akan menyandang predikat Duta Pramuka Bersahabat dengan Sampah dan diberikan pelatihan lanjutan sebagai fasilitator di gugus depan maupun wilayah.
Dukungan Penuh dan Harapan Besar
Ketua Kwarcab Kota Kotamobagu, Roy Kasenda, SE, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah langkah nyata menuju gerakan perubahan yang terukur.
“Ini bukan soal menyerahkan tanggung jawab pada pemerintah semata. Ini tentang kesadaran kolektif bahwa kita semua punya peran. Dengan kurikulum, pelatih, dan modul dari Mondowana, kami yakin gerakan ini akan berdampak nyata,” tegas Roy.
Tenaga Ahli Mondowana, Syarif Rakhmat Mokoginta, S.Pd, menegaskan pentingnya penguatan hulu dalam pengelolaan sampah. Ia juga menyebut bahwa Mondowana sedang membina kelompok-kelompok pengelola sampah agar berkembang menjadi koperasi produsen yang profesional dengan dukungan penuh dari Pemkot Kotamobagu.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Mondowana, Siti Hadija Junaidi, M.Pd, menggambarkan potensi besar program ini:
“Bayangkan, 50 peserta saja bisa mengelola hingga 300 kg sampah dalam seminggu. Jika 400 peserta dari 80 sekolah ikut di batch berikutnya, potensi pengurangan sampah bisa mencapai ribuan kilogram. Ini dampak besar dari langkah kecil,” jelasnya.
Simbolisasi Aksi dan Produk Hasil Daur Ulang
Sebagai bagian dari seremoni, Mondowana menyerahkan produk hasil biokonversi berupa kasgot dan maggot kering dari sampah Pasar Poyowa Kecil kepada Ketua Kwarcab. Penanaman bibit cabai dalam polybag berbahan sabun bekas menggunakan kasgot menjadi simbol sinergi antara kepanduan dan pendidikan lingkungan.
Salah satu anggota Kwarcab, Kak Heriman, juga memamerkan paving block hasil olahan plastik, membuktikan bahwa sampah bisa diubah menjadi produk berkualitas.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Kegiatan hari itu ditutup dengan seluruh peserta langsung menjalankan tantangan hari pertama: memilah sampah dan mengisi log aktivitas. Evaluasi akan dilakukan tujuh hari ke depan untuk merancang aksi lanjutan yang lebih masif.
















