Berita UtamaNasionalPendidikan

Lahirkan Karya, Berikut Pandangan TISI dalam Buku “76 Penyair Membaca Indonesia”

629
×

Lahirkan Karya, Berikut Pandangan TISI dalam Buku “76 Penyair Membaca Indonesia”

Sebarkan artikel ini

Budaya boleh disebut sebagai satu proses yang terus berkembang dan berubah untuk menjadi. Menjadi dengan arah dua cabang jalan alternatif. Yang satu arah menuju perkembangan yang benar dan lebih baik. Sedang arah yang lain menuju perkembangan yang salah dan lebih buruk. Saat ini, kita melihat arah perkembangan budaya kita justru melenceng ke alternatif yang salah dan lebih buruk.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak pernah lepas dari tekanan. Sejak abad pertengahan sejarah mencatat banyak bangsa asing yang tertarik datang ke wilayah nusantara dengan dalih dan motif ingin menguasai. Ya, kekuasaan memang salah satu nilai budaya yang terus menjadi obsesi manusia. Kekuasaan selalu menunjukkan kekuatan dan kehebatan. Bangsa Cina sudah mencoba melakukan invasi sejak jaman Kerajaan Kediri. Bangsa Eropa sudah datang dan membangun hegemoni kekuasaan sejak Majapahit mulai runtuh. Kedatangan bangsa-bangsa asing itu telah mengubah cara berpikir dan bersikap bangsa pribumi, sekaligus mempengaruhi budaya dan karya budaya (peradaban) yang mengikutinya.

Bangsa kita sudah terlanjur diwarisi pemahaman bahwa kekuasaan itu adalah panggung politik. Kekuasaan harus diselenggarakan dengan pendekatan politik. Dan politik tidak pernah lepas dari intrik. Sehingga ada yang mempersepsikan politik itu kotor, karena orientasinya selalu pada hasil. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, berbagai cara boleh dilakukan, meskipun dengan cara kotor sekali pun. Politik melihat niali-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, hanyalah sesuatu yang perlu diketahui (something to know), bukan sesuatu yang harus dijalani (something to do). Inilah kata-kata emas J.F. Kennedy dalam pidatonya di depan Civitas Academica Harvard University (1956): “If more politicians knew poetry, and more poets knew politics, I am convinced the world would be a little better place to live.” Jika ada lebih banyak politisi mengenal puisi, dan ada lebih banyak penyair mengenal politik, saya yakin dunia ini akan menjadi tempat yang sedikit lebih baik untuk hidup. Tetapi, di sini kata-kata J.F. Kennedy ini dipelintir dengan terjemahan menjadi: “jika politik kotor, puisi yang membersihkan.”Kata-kata Kennedy ini seakan hanya ingin menegaskan, bahwa negara dan kekuasaan sebagai panggung politik telah kehilangan warna dan rasa kemanusiaannya.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Membangun Rumah, Satgas TMMD ke-130 Hadirkan Harapan Baru bagi Pak Suroto

Pendekatan politik semacam ini dilakukan sejak Indonesia merdeka sampai sekarang. Pendekatan politik dan kekuasaan sangat dominan, sehingga semua persoalan negara dan bangsa harus dilihat dari kacamata politik dan kekuasaan. Akibatnya, selalu muncul kekerasan di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Intrik-intrik politik untuk mempertahankan kekuasaan selalu mengakibatkan polarisasi yang tajam di antara kekuatan yang pro dan kontra. Negara terlalu sibuk dengan urusan politik dan kekuasaan sehingga negara lupa bahwa aset terbesar negara dan bangsa adalah manusia. Manusia (rakyat) yang terus berpikir dan merasakan sesungguhnya pemeran budaya yang sangat menentukan karakter negara dan bangsa.

Menyikapi perkembangan dinamika perjalanan bangsa ini, kami 76 penyair melihat Indonesia ke depan dengan penuh rasa sedih dan prihatin. Pada 17 Agustus 2021, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke 76 negeri tercinta Indonesia, kami 76 penyair dari 34 provinsi, mengajak semua pihak kembali membangun kesadaran bersama dengan sejenak berkontemplasi. Mari kita melihat ke belakang mengenang kebaikan-kebaikan para founding fathers yang telah mewariskan negeri ini kepada kita. Mari kita menelusuri kembali jejak perjalanan bangsa dengan mencermati naik turunnya dinamika kehidupan berkebudayaannya. Tentu, kita sepakat bahwa warisan nilai-nilai pembangun karakter budaya bangsa kita sesungguhnya adalah nilai-nilai adiluhur yang mampu terus mengikuti perubahan dan perkembangan jaman.

Baca Juga :  Satgas TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu Gotong Royong Bongkar Rumah RTLH, Wujudkan Harapan Baru bagi Warga Aek Batu

Untuk itu, semangat kembali kepada nilai-nilai adiluhur itu perlu dan mendesak kita gaungkan kembali. Semangat mereaktualisasi kebudayaan sepertinya menjadi alternatif solusi yang bisa menjanjikan. Kebudayaan kita sedang melenceng arah. Kewajiban kita, anak-anak negeri, untuk meluruskan kembali ke arah yang benar.

Seperti apa reaktualisasi kebudayaan, konsep dasar dan wujud nyatanya perlu diskusi lebih lanjut untuk merumuskannya bersama. Paling tidak, kita pegang erat-earat esensinya: mengembalikan karakter bangsa sesuai cita-cita proklamasi kemerdekaan. Karakter cinta kasih pada negeri. Bentuknya memberi karena peduli, dedikasi atas nama penghormatan, penghargaan, dan pengabdian. Bukan seperti yang terjadi saat ini. Semangatnya meminta, bahkan bila perlu menjarah. Yang tampil karakter korupsi tanpa peduli nasib bangsa sendiri.

Ikuti Saluran PilarAktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Baca Juga :  Alat Berat Terus Bekerja, TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu Tingkatkan Jalan Penghubung Aek Batu–Pinang Damai