Manado, PilarAktual.com – Setelah lebih dari dua dekade terbengkalai, secercah harapan akhirnya muncul bagi dunia olahraga air di Sulawesi Utara.
Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling menunjukkan ketulusan luar biasa dengan menyatakan kesiapannya menggunakan dana pribadi untuk merenovasi kolam renang KONI Sario Manado, fasilitas bersejarah yang telah ditinggalkan sejak tahun 1999.
Kolam renang yang dibangun pada era 1980-an ini pernah menjadi kebanggaan warga Manado dan pusat pembinaan atlet renang Sulawesi Utara.
Di sinilah lahir generasi muda yang berprestasi, membawa harum nama daerah di berbagai ajang kejuaraan.
Namun, seiring waktu dan pergantian kepemimpinan, perhatian terhadap fasilitas tersebut memudar.
Dinding kolam retak, air mengering, dan semangat olahraga perlahan ikut tenggelam.
Kini, di tengah kondisi memprihatinkan itu, muncul pernyataan yang menggetarkan hati. Saat diwawancarai, Gubernur Yulius dengan suara tegas namun penuh kehangatan menyampaikan kepeduliannya.
“Saya prihatin melihat keadaan kolam renang KONI Sario. Tempat ini menyimpan sejarah dan mimpi banyak atlet muda. Kalau memang belum ada anggaran dari pemerintah, saya siap menggunakan uang pribadi saya untuk merenovasi. Kita harus kembalikan semangat anak-anak muda kita,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Pernyataan tersebut sontak memantik apresiasi dari para pengurus KONI dan masyarakat olahraga Sulut.
Banyak yang menilai langkah Yulius Selvanus Komaling sebagai contoh nyata kepemimpinan berjiwa sosial, bukan sekadar wacana birokratis.
Langkah tersebut juga dianggap sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menegaskan tanggung jawab pemerintah daerah dalam membangun dan memelihara sarana olahraga.
Menurut Gubernur Yulius, revitalisasi kolam ini bukan hanya proyek fisik, tetapi juga pembangunan semangat generasi muda.
“Kita tidak hanya membangun kolam, tapi membangun mimpi. Anak-anak kita harus punya tempat untuk berlatih, berjuang, dan berprestasi. Jangan biarkan semangat olahraga mati hanya karena fasilitas yang rusak,” tegasnya.
Sikap tulus sang gubernur dianggap langka di tengah iklim birokrasi yang seringkali lambat.
Ia menempatkan kepentingan masyarakat di atas urusan administratif, menunjukkan bagaimana seorang pemimpin bisa hadir bukan hanya di atas panggung, tapi juga di tengah rakyat yang menanti perubahan.
Bagi masyarakat Manado, janji ini bukan sekadar kabar baik, tetapi simbol kebangkitan olahraga daerah.
Mereka melihat kembali sinar harapan setelah lebih dari dua dekade kolam itu dibiarkan sunyi.
Bila komitmen ini terwujud, bukan hanya dinding kolam yang diperbaiki, tetapi juga semangat juang para atlet muda Sulut yang lama terpendam akan kembali menyala.
Ketika kepedulian seorang pemimpin lahir dari hati dan bukan dari kepentingan, maka rakyat akan menyambutnya bukan dengan tepuk tangan melainkan dengan air mata haru dan rasa syukur.
















