Begini Kronologi Penolakan Swab Di Paret Versi Kapus Kotabunan

  • Whatsapp
F: Ilustrasi

Boltim, PilarAktual.com – Insiden penolakan swab oleh keluarga pasien probable di Desa Paret Timur, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, pada Kamis 17 Juni 2021, nyaris berujung kekerasan. Sejumlah warga Paret dan Paret Timur yang berada di rumah duka dan menjadi target swab oleh petugas medis hari itu melakukan perlawanan. Padahal, sebelumnya telah ada komunikasi antara keluarga pasien meninggal dan petugas medis untuk pelaksanaan swab tersebut.

Diceritakan Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Kapus) Kotabunan, Nita Hala, rencana swab tersebut sebagai tindaklanjut status probable terhadap pasien perempuan yang sempat dirawat di PKM Kotabunan. Meski sudah ada komunikasi awal dengan pihak keluarga pasien, pelaksanaan swab pada hari itu diwarnai perdebatan.

Bacaan Lainnya

Diungkapkan, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 Wita. Sebelumnya, pada Selasa 15 Juni 2021 sudah ada kesepakatan dengan keluarga untuk melakukan swab ke 41 daftar nama kontak erat pasien probable yang diberikan keluarga. Pada Kamis 17 Juni, Nita bersama Babinsa setempat mendatangi rumah duka di Desa Paret Timur. Kedatangan petugas medis dan keamanan ini ternyata memancing keributan kecil. “Sempat adu mulut, sempat juga ada yang mengangkat batu seakan ingin melempar kendaraan petugas medis,” kata Nita, Jumat 18 Juni 2021. “Saya sendiri tak sempat melihat warga yang mengacungkan barang tajam karena pandangan saya terhalang gedung. Hanya saja salah satu petugas medis kami menyaksikannya dan merasa terancam,” tambahnya.

Untuk status pasien probable tersebut, kata Nita, didasarkan pada beberapa kali hasil tes antigen. “Memang belum ada hasil PCR bahwa pasien yang sudah meninggal adalah positif Covid, tapi (hasil tes lain) mengarah ke situ,” jelasnya.

Tak hanya itu, sewaktu almarhumah dalam perawatan, dua kali tes antigennya positif. “Di PKM Tutuyan hasil antigennya positif, di PKM Kotabunan ada antigennya positif. Di rumah sakit (Ratatotok) antibodinya reaktif, bahkan hasil rontgen terhadap pasien dinyatakan Pneumonia Covid. Makanya kita terapkan prokes,” ujarnya.

Saat penguburan jenasah, pihaknya juga telah memberikan APD kepada keluarga, tapi tidak digunakan. “Padahal ini semua untuk kebaikan bersama. Pencegahannya perlu kita lakukan,” tutup Nita.
(end/Frz)