Boltim

Atlit Pecatur Boltim, Minim Perhatian Pemerintah

213
×

Atlit Pecatur Boltim, Minim Perhatian Pemerintah

Sebarkan artikel ini

PilarAktual.com, Boltim – Tegar Khadafi Pratama Sumendap, remaja asal Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) ini merupakan salah satu pecatur talenta yang banyak kali memenangkan kejuaraan di kancah nasional.

Tegar yang merupakan anak pertama pasangan Jemi Sumendap dan Lisa Mokoagow ini telah banyak mengharumkan nama daerah di kancah nasional seperti, O2SN, Kejurda, Kejurprov, dan Kejurnas.

Saat bersua dengan insan pers, atlit pecatur muda yang duduk di bangku kelas III SMAN 9 Manado ini mengatakan dirinya mulai mengikuti kejuaraan catur sejak kelas satu SD, dimana dirinya berhasil menjadi juara IV di O2SN tingkat Provinsi Sulawesi Utara.

“Saya mulai belajar dan mengikuti kejuaraan catur sejak duduk di bangku SD, saat itu baru berusia 7 tahun, mewakili boltim di O2SN Sulut mendapat peringkat ke IV, kemudian saat kelas III SD saya mendapat juara 1 O2SN Provinsi dan mewakili Sulut ikut O2SN Nasional di Kalimantan tahun 2012,” katanya.

Setahun kemudian, Tegar kembali menyabet medali emas Kejurda dan diutus ke Kejurnas di Makasar. Di sana, dia mengikuti 3 kategori catur, Klasik, Cepat dan Kilat dan berhasil masuk 10 besar kategori Klasik. Saat duduk di kelas V SD, Tegar yang berusia 10 tahun mewakili Boltim menyabet juara V Kejurda.

Baca Juga :  Bupati Oskar Manoppo Resmikan Relokasi 20 KK, Warga Terima Rumah dan Bantuan Modal Usaha

Di usia inilah dia mendapat tawaran dari Kabupaten Wamena, mengikuti Kejuaraan catur Provinsi Papua dan menyabet medali Emas untuk Wamena. “Saya mendapat bonus pembinaan sebesar Rp. 50 juta waktu itu, beber Tegar.

Mendapat medali emas di Kejurprov Papua tahun 2017 (foto: Ist)

“setelah itu, saat duduk di kelas VI SD saya tidak diijinkan lagi mengikuti O2SN di Boltim dengan alasan saya bukan lagi atlit catur Boltim melainkan Papua,” tuturmya.

Namun sangsi itu tak berlangsung lama. Saat duduk di bangku kelas I SMP, Tegar kembali mengikuti Kejurda. Keluar sebagai juara I dengan menyingkirkan semua lawan-lawanya.

Keberhasilan ini kemudian menjadikannya wakil Boltim dalam Kejurnas. Saat itu Tegar harus puas dengan Finis di peringkat ke 12.

“Kelas II SMP saya kembali menerima tawaran dari Kabupaten Wamena untuk ikut Kejurprov Papua. Saya mendapat juara 1,” kenang Tegar.

Ketika Kejurnas di Bogor, Tegar menaikkan gengsinya di peringkat ke delapan, namun saat duduk di kelas III, dia tidak lagi mengikuti kejuaraan catur karena memfokuskan diri untuk ujian dan menyelesaikan SMPnya.

Baca Juga :  Wabup Argo Sumaiku Pimpin Rapat Persiapan Pilsang Boltim 2026, Camat dan Sangadi Diminta Jaga Netralitas

Tegar Kemudian melanjutkan studinya ke SMA di Manado. Bakatnya pun terus dilatih dan beberapa kali dia tampil di kejuaraan. Pada tahun 2019 kemarin dia menjadi wakil Boltim di Porprov di Kota Bitung. Dia masuk lima besar. Di tahun yang sama, dia mengikuti pertandingan catur antar pelajar di manado dan keluar sebagai jura pertama. “Sejak kelas dua sampai sekarang belum pernah ikut lomba karena memang kondisi pandemi covid19,” ungkapnya.

Tinggal di Rumah Kecil Sederhana

Prestasi yang diukir Tegar bahkan beberapa kali telah mengharumkan nama daerah, tak selaras dengan kondisi ekonomi keluarganya.

Tegar tinggal di rumah sangat sederhana, sempit pula. Rumah milik orangtunya itu berada di Desa Buyat Barat, Kecamatan Kotabunan. Rumah itu berukuran 5×7 meter dan terbuat serba dari papan. Bagian depan terdapat satu kamar dengan dapur yang berukuran 2,5×5 meter.

Atap rumah tersebut terbuat dari daun Rumbia. Itu pun sudah usang. Di saat hujan, kerap ada tetesan air di atap yang harus mereka tambal.
Dinding-dinding rumah juga sudah mulai lapuk di makan usia.

Rumah milik orang tua Tegar di Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan (Foto : HM)

Di dinding bagian dalam rumah, terpajang ‘bukti’ prestasi Tegar yang diabadikan keluarganya. Sertifikat dan piala disimpan baik oleh keluarga kecil itu. Di dinding juga terpajang papan catur ukuran jumbo. “Medali dan piala lain ada di Manado,” kata Tegar.

Baca Juga :  Hadiri RUPS LB Bank SulutGo, Bupati Oskar Manoppo Dukung Penataan Pengurus Sesuai Arahan OJK

Sang Ibu, Lisa Mokoagow, menuturkan jika mereka belum mendapat bantuan rumah tinggal layak huni (RTLH) dari pemerintah. “Hanya lantai ini yang dulunya papan sekarang sudah dibeton. Untuk program RTLH kami sudah sering disurvey dan diambil gambar tapi belum jelas kapan ada bantuannya,” ungkap Lisa.

Ibunda Tegar berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dia juga membantu menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai juru masak di salah satu rumah makan di Desa Buyat. Sedangkan sang suami, Jemi Sumendap, saat ini bekerja di luar daerah sebagai penambang.

Meski dengan kondisi ekonomi serba pas-pasan, orang tua Tegar berupaya mewujudkan cita-cita anak mereka untuk menempu pendidikan hingga perguruan tinggi. Mereka juga terus mensuport Tegar agar terus mengasa bakat caturnya serta tak berhenti berprestasi mengharumkan nama daerah. (HM)

Ikuti Saluran PilarAktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow