DaerahPemerintahan

Dinkes Halsel Gelar Rembuk Penguatan Stunting, Asia Hasyim: Kusubibi Dominasi Angka Stunting

524
×

Dinkes Halsel Gelar Rembuk Penguatan Stunting, Asia Hasyim: Kusubibi Dominasi Angka Stunting

Sebarkan artikel ini
Dinkes Halsel Gelar Rembuk Penguatan Stunting, Asia Hasyim: Kusubibi Dominasi Angka Stunting

LABUHA, PilarAktual.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Halmahera Selatan, gelar Rembuk Penguatan Intervensi Stunting Tim Binaan SKPD Lokus Stunting dan Pembentukan Perkada Stunting tingkat Kabupaten tahun 2021.

Pelaksanaan rembuk stunting itu digelar dalam bentuk dialog yang melibatkan ketiga pembicara yakni, kepala Dinas Kesehatan, Asia Hasyim, Kabid Sosbud Bapalitbagda Halsel, Yudi Eka Prasetya dan kepala DP3KAB Halsel, Karima Nasarudin. Itu berlangsung di aula canga matau (Taman budaya saruma).

Kadinkes Halsel, Asia Hasyim usai kegitan kepada wartawan Selasa, (28/12/2021) mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk fokus 10 desa lokus stunting pada tahun 2022.

Selain itu, Dinkes Halsel juga melakukan upaya menekan angka stunting dengan program intervensi gizi spesifik dan intervensi sensitif.

Baca Juga :  Bupati Oskar Manoppo Resmikan Relokasi 20 KK, Warga Terima Rumah dan Bantuan Modal Usaha

“Rembuk stunting nantinya untuk action penanganan stunting Halsel dapat melibatkan semua OPD di lingkup pemda Halsel untuk membantu penanganan. Setiap desa yang ditetapkan sebagai lokus stunting di Halsel semua OPD terlibat mengambil peran menangani lokus stunting,” Ucapnya.

Menurutnya, data prevalensi stunting di Halsel tahun 2020 sebanyak 1.179 turun 11 persen sedangkan prevalensi stunting pada tahun 2021 sebanyak 2.063 presentasi menurun 12 persen.

Dikatakan Asia, sebanyak 10 Desa yang ditetapkan lokus stunting itu desa kusubibi dominasi angka stunting pada tahun 2020 hingga 2021, ini tercatat sebanyak 74 kasus stunting terbanyak dari 9 desa lainya.

“Benar desa Kusubibi dominasi angka stunting mulai usia 0-2 tahun 22 kasus, 2-5 tahun 15 kasus dan 0-5 tahun 37 kasus total 74 kasus stunting,”Ungkap Asia.

Baca Juga :  Wabup Syafrizal Apresiasi Prestasi Tim Futsal Batu Bara dan Siap Dukung Berlaga di Tingkat Nasional

Lebih lanjut Asia, akibat keterbatasan ketersediaan air bersih, jamban dan lingkungan yang kotor di masyarakat, dapat  menyebabkan faktor stunting di Halsel.

Dijelaskan Asia, stunting merupakan kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia dibawa lima tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu dari janin hingga anak berusia 23 Bulan.

“Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badanya berada dibawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Kegiatan ini sekaligus Penandatanganan komitmen SKPD dalam rangka penguatan intervensi Spesifik dan sensitif di Desa Lokus Stunting tahun 2022.
(A/red)

Baca Juga :  Hadiri Forum Bisnis dan Pelantikan BPD HIPKA Batu Bara, Bupati Baharuddin Tegaskan Generasi Muda Manfaatkan Potensi yang Ada

Ikuti Saluran PilarAktual.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow