Manado, PilarAktual.com – Perayaan Syukuran Adat Tulude Tahun 2026 yang digelar Jemaat GMIM Baitel Batusaiki Manado, Sabtu (7/2/2026), berlangsung khidmat, meriah, dan sarat makna spiritual serta kearifan lokal.
Tradisi adat tahunan masyarakat Nusa Utara ini menjadi momentum penting ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan hidup jemaat di tanah perantauan.
Puncak perayaan Tulude yang biasanya dilaksanakan pada akhir Januari sengaja digeser ke awal Februari agar dapat diikuti lebih luas oleh jemaat dan undangan.
Prosesi utama ditandai dengan pemotongan Kue Adat Tamo oleh tetua adat Nusa Utara, Markus Takapipi.
Ritual ini melambangkan rasa syukur, harapan baru, serta komitmen menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Ibadah Syukuran Tulude dipimpin oleh Pdt. Dr. Roy D. Tamaweol, Th.M, dengan pembacaan Firman Tuhan dari Mazmur 8 ayat 1ā10.
Dalam khotbahnya, Pdt. Tamaweol mengajak jemaat untuk merefleksikan perjalanan hidup, memperbaiki relasi dengan Tuhan dan sesama, serta melangkah ke masa depan dengan iman yang teguh di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Ia menegaskan bahwa iman Kristen dan budaya lokal tidak saling meniadakan, melainkan dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Nilai syukur, kerendahan hati, serta kebersamaan yang terkandung dalam Tulude dinilai relevan untuk terus diwariskan kepada generasi muda.
Menariknya, seluruh rangkaian acara Tulude tahun ini dibawakan menggunakan bahasa Sangihe, mulai dari pembukaan, doa adat, pemotongan Kue Tamo, hingga penyampaian pesan kebersamaan.
Nuansa kearifan lokal semakin kuat dengan tema yang diusung, āManawuhe Dingangu Pangangimang, Sarung Manipo Dingangu Daluaseā, yang berarti Menabur dengan Iman, Menuai dengan Syukur.
Ketua BPMJ GMIM Baitel Batusaiki, Pdt. Tommy Lineleyan, M.Th, menyampaikan bahwa perayaan Tulude merupakan sukacita iman yang mempertemukan jemaat, masyarakat, serta para tamu undangan dalam semangat persaudaraan.
Ia menilai Tulude bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga sarana mempererat solidaritas jemaat dan melestarikan identitas Nusa Utara.
Ketua Panitia Perayaan Tulude, Diaken S. Rondonuwu-Maniku, turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan tersebut.
Hadir dalam perayaan ini perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Kepala Dinas Sosial Andra Mawuntu, perwakilan Pemerintah Kota Manado, jemaat-jemaat tetangga yang menampilkan lagu Masamper dan tarian Sasambo, para mantan Ketua BPMJ GMIM Baitel Batusaiki seperti Pdt. Watung dan Pdt. Rumopa, serta konten kreator Diego.
Bagi jemaat, Tulude 2026 menjadi pengingat bahwa adat, bahasa, dan iman adalah identitas yang harus terus dirawat.
Harapan pun tumbuh agar nilai-nilai luhur peninggalan leluhur Nusa Utara tetap hidup dan relevan bagi generasi penerus.
















