Kata Hati Penulis
Saya Pribadi sebagai penulis yang terus mengikuti dinamika kebijakan publik dan birokrasi di Indonesia, saya merasa prihatin sekaligus tergugah oleh fenomena honorer siluman dalam proses seleksi PPPK.
Fenomena ini bukan sekadar cerita pinggiran yang bisa kita abaikan, melainkan sinyal keras bahwa sistem yang seharusnya adil dan berpihak pada para pejuang pendidikan, tenaga kesehatan, dan pelayan publik lainnya, sedang diuji integritasnya.
Saya membayangkan betapa kecewanya seorang guru honorer yang telah mengajar puluhan tahun, dengan upah tak sebanding, di pelosok negeri, namun harus kalah bersaing dengan seseorang yang entah dari mana datangnya.
Hati ini teriris membayangkan bagaimana perjuangan mereka yang telah berkorban waktu, tenaga, bahkan kadang martabat terkalahkan hanya karena sistem yang longgar dimanfaatkan oleh mereka yang haus akan status dan keuntungan instan.
Tulisan ini bukan untuk menyerang siapa pun, tetapi menjadi cermin bagi kita semua.
Bahwa keadilan bukan sekadar slogan, dan integritas bukan hanya formalitas.
Negara ini, bangsa ini, harus berani melihat ke dalam, membersihkan sistemnya dari praktik culas dan manipulasi data yang menyakiti banyak pihak.
Seleksi PPPK bukan semata urusan teknis administratif, tetapi menyangkut nasib ribuan, bahkan jutaan jiwa yang telah lama menanti pengakuan dari negeri yang mereka layani.
Sebagai warga negara, saya mengajak Anda semua pejabat, pengambil kebijakan, masyarakat umum—untuk membuka mata dan telinga.
Jangan biarkan mereka yang benar-benar mengabdi kalah oleh para siluman yang datang tanpa jejak, tapi meninggalkan luka yang dalam.
Kita masih punya harapan jika berani membenahi.
Mari kita jaga bersama cita-cita reformasi birokrasi.
Jangan sampai kepercayaan publik yang telah dibangun hancur karena ulah segelintir orang yang bermain dalam kegelapan.
















