Upaya Perubahan Ideologi Pancasila Menjadi Ideologi Agama

  • Whatsapp
Nabilah Nathania Putri, Mahasiswi
Nabilah Nathania Putri, Mahasiswi

Opini, PilarAktual.com – Identitas merupakan hal yang sangat penting bukan? Apalagi untuk suatu bangsa dimana di dalamnya terdapat beraneka macam suku, budaya, ras, maupun agama. Identitas bangsa Indonesia itu sendiri tertuang dalam ideologiyang dianut oleh bangsa Indonesia, yaitu ideologi pancasila. Ideologi Pancasila adalah ideologi terbaik bagi bangsa Indonesia.

Hal ini dikarenakan ideologi pancasila dapat mencakup seluruh sendi kehidupan manusia mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Dengan demikian, bangsa Indonesia wajib menerapkan dan terus mendalami falsafah Pancasila demi mewujudkan Indonesia yang adil, tenteram, damai, dan kuat.

Bacaan Lainnya

Indonesia didirikan dan diperjuangkan oleh masyarakat yang memiliki berbagai macam suku agama ras. Dimana dengan keberagaman itu menjadikan indonesia lebih kuat hingga sampai saat ini. Jika terdapat suatu kelompok yang akan merubah ideologi indonesia dengan cara apapun, maka bisa disimpulkan bahwa mereka tidak bisa menghargai para pendahulu yang sudah memperjuangkan negara ini. Dan hal itu juga tidak sesuai dengan bagaimana isi dari sila ke 3 Pancasila.

Usaha perubahan ideologi bangsa Indonesia ini sebenarnya sudah pernah terjadi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menewaskan banyak pahlawan maupun orang penting di Indonesia. Maka dari itu apabila di Indonesia secara tidak adil memaksa semua rakyatnya untuk mengikuti salah satu ideologi suatu agama, maka pasti akan menimbulkan perpecahan akibat adanya sifat paksaan.

Sehingga akan lebih baik dan adil jika memberi seseorang kebebasan untuk beragama, dengan begitu mereka akan saling menghargai satu sama lain dan menjunjung persatuan Indonesia agar tidak mudah dirobohkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin Indonesia terpecah belah.

Pancasila itu ideologi negara, bukan ideologi agama. Jadi, di dalamnya mengandung nilai-nilai luhur agama,dan itu bukan berarti menjadikan Pancasila ideologi agama. Pelaksanaan Pancasila diselenggarakan dengan tata negara dan tata pemerintahan, bukan tata agama. Demikianlah selayaknya, seharusnya.

Pelanggaran terhadap Pancasila diukur dengan sistem tata negara dan tata pemerintahan yang ada, bukan dengan takaran dosa dan selayaknya masuk neraka, tapi dengan dakwaan perbuatan salah untuk kemudian dituntut di depan pengadilan. Benar dan salah di pengadilan tetap saja tidak akan mewakili atau mencerminkan Pengadilan Agung di akhirat.

Pengadilan dunia, dalam sistem tata negara, bahkan di negara apa pun, tetap saja pengadilan oleh manusia untuk manusia. Selalu terbuka peluang khilaf di dalamnya. Oleh karena itulah, rasa keadilan diyakini lebih penting dan bahkan mampu melampaui hukum itu sendiri.

Telah beragama pun sesungguhnya tak membuktikan apa-apa karena negara mustahil menyelidik sampai ke relung hati warga negara. Terlebih, pada masa lalu, seseorang beragama gara-gara tekanan keadaan dan kenyataan bahkan bisa jadi hal itu masih terjadi sampai hari ini.

Oleh karena itulah, sewajarnya jika ada gagasan untuk mengosongi saja kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk. Ini lebih masuk akal daripada ujaran perlunya pembubaran ajaran agama yang tidak sesuai Pancasila. Menyebut hanya satu agama yang sesuai dengan Pancasila pun ahistoris dan pembodohan publik.

Jika terus dipaksakan, ini justru menyulut kembali perdebatan tentang agama lokal dan agama impor. Tentu saja, ini bukan sesuatu yang kita inginkan. Tak hanya akan mengganggu semangat Bhinneka Tunggal Ika, namun bahkan bisa memicu gesekan horisontal berlatar Suku, Aliran, Ras, dan Agama. Konflik agama di mana pun sering sukses meluluhlantakkan tak hanya negara dan bangsa, namun juga peradaban dan kebudayaan.

Untuk kasus radikalisme pun sebenarnya sudah ada sejak dulu. Maka dari itu tugas bagi bangsa Indonesia untuk menangkal gerakan ini. radikalisme terjadi oleh karena banyak faktor, tetapi yang paling banyak adalah persoalan ideologi agama. Dari situlah para penganut paham tersebut akan menganggap orang yang tidak sepaham dengan mereka sebagai musuh dan merasa harus dimusnahkan.

Penulis: Nabilah Nathania Putri, Mahasiswi

Pos terkait