Pengemis di Tanah Sendiri

  • Whatsapp
Ilustrasi
Opini, PilarAktual.com – Indonesia sebagai negara hukum yang sangat mengimpikan setitik keadilan. Konsep keadilan tak lagi bersahabat sebagai tameng terakhir pertahanan rakyat, karena sudah dikalahkan oleh kepentingan politik. Tampak jelas di depan mata, praktik penindasan merajalela berbarengan dengan kebohongan dan kelicikan yang dipoles secara halus sehingga mengalahkan keadilan.

Contoh kecil terjadi di sebuah daerah sederhana, yang kaya akan SDA, sementara SDM-nya dididik untuk mengemis. Kenapa demikian? Kerena penguasalah yang telah merencanakan hal itu semulus dan sebersih mungkin agar masyarakat secara langsung diam ketika dibodohi.

Umbaran janji yang pernah terlontarkan lewat visi dan misi yang dipromosikan dalam acara “bazzar politisi”, dimana para “hero politik” memamerkan kehebatan untuk memperebutkan sebuah gelar duniawi yaitu “PENGUASA”.

Masyarakat dicekoki dengan sejumlah umbaran kebohongan yang dijanjikan, demi meraih suara pengharapan yang nantinya akan diperjual belikan si Penguasa. Jangan heran ketika ada segelintir masyarakat menjadi pengemis, ya mereka menjadi pengemis keadilan yang sudah dijanjikan dahulu.

“Wahai engkau Penguasa, silahkan simpan umbaran kebohongan yang pernah kau lontarkan waktu itu, telah cukup selama ini kami menjadi pengemis di dalam rezimmu.”

Penulis : Dhytra

Pos terkait