Pemilu 2019 Adalah Pesta Rakyat, Bukan Spekulasi Merasa Benar Bahkan Mendiskreditkan Sesama Ummat

  • Whatsapp
Penulis : Arwan Syahputra

          Pengamat Muda Demokrasi Indonesia

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 menjadi dasar hukum penyelenggaraan pesta Demokrasi 2019, yang Memilih DPR, DPD, DPRD Hingga Pilpres dan dilaksanakan secara serentak. Pemilu itu sendiri di dasari  asas Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil yang dilaksanakan 5 Tahun sekali, yang sesuai dengan Pasal 22E
(1) UUD 1945.
Pemilu memang seharusnya memberi kebebasan pada setiap warga negara memilih kandidat manapun, dan menghargai setiap perbedaan dalam pelaksanaan hak pilih.
Namun demikian, yang pada dasarnya Perbedaan dalam Memilih Kandidat adalah Warna Dari Demokrasi itu sendiri, malah menjadi Cibiran negatif bagi sebagian kalangan sosial.
Realita nya, masih ada oknum-oknum tertentu yang mendikte hak pilih seseorang dengan Iming-iming perihal agamis Dsb.
Misal Dalam Pilpres 2019, masih ada kalangan yang menyeru pilih A atau B dengan Metode terlampau Klasikal Dan kuno, “sebagai Kaum beriman kita pilih saja A, Karna ini Barisan Ulama Istiqomah”, Ataupun “kita wajib mendukung B, karena si A Adalah Munafik”, Tak jarang substansi kalimat demikian dirasakan oleh realitas kehidupan politik hari ini. Memilih karena arahan dari Tokoh-tokoh tertentu dibenarkan oleh demokrasi, namun yang perlu di kesampingkan “arahan yang bersifat menyudutkan yang memburamkan wajah demokrasi Indonesia”.
Sebagai Masyarakat cerdas, mempertahankan hak pilih yang berbasis dari hati sangat diperlukan, apalagi memfilter segala tindakan yang provokatif membuat buram sikap Toleransi.
Untuk itu, Penulis yang merupakan Mahasiswa Hukum universitas Malikussaleh, mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar tidak terkena Dikte dikte Sara yang provokatif, yang sikap nya seolah-olah memonopoli Syurga.
karena jangan sampai Persatuan Indonesia menjadi retak disebabkan perbedaan hak pilih dalam pemilu 2019.
Pemilu Tetaplah menjadi Pesta untuk Rakyat, tidak perlu saling mencibir apalagi mendiskreditkan kehidupan sesama ummat.

Pos terkait