Masyarakat Perupuk Merasa Bingung, Pantai Sejarah Dinyatakan Wilayah Hutan

  • Whatsapp

BATU BARA, PilarAktual.com – Saling Bantah dan umbar pernyataan antara masyarakat setempat yang tinggal di sekitar pantai sejarah desa Perupuk kecamatan Limapuluh Pesisir dengan Kelompok tani pencinta Mangrove yang diketuai Pak Azizi sebagai pemilik izin IUPHKm kian membara.
Hal ini terjadi sebab terkait sengketa lahan areal kerja IUPHKm yang diduga sudah dibebani hak atas kepemilikan tanah masyarakat setempat. Rabu (09/12/2020)

Pak Jasni Salah seorang warga yang sudah sepuh mengungkapkan fakta-fakta sejarah tanah di desa Perupuk. Dirinya menceritakan bahwa dulu dibibir pantai sejarah itu banyak rumah penduduk yang bermukim.
” Begini nak, saya masih ingat sekali pantai itu salah satu tempat saya bermain dari kecil, dahulu orang orang tua dan nenek kami dulu waktu saya kecil ya tinggal disana. Namun karena terjadinya pengikisan tanah itu mungkin ada sekian ratus meter banyak rumah orang-orang yang tinggal disana tenggelam kedalam laut. Termasuk pohon-pohon kelapa pun tenggelam ke laut,” kenangnya bercerita kepada reporter kami di Desa Perupuk beberapa waktu lalu.

Ketika ditanyakan kepadanya terkait gonjang ganjing sengketa lahan kepemilikan tanah masyarakat setempat di Pantai Sejarah dengan kelompok tani pemilik IUPHKm, dirinya Mengaku bingung kenapa itu dinyatakan sebagai wilayah hutan.
” Dari kecil setau saya tanah itu milik Bahtiar nak, namun sudah dijual ke elfi haris. Punya sayapun ada 11 Rante saya jual ke elfi haris. Jika benar dulunya dikatakan hutan, Bapak memang belum ada diapa-apakan orang itu. Memang semua asalnya tanah negara, namun udah dikuasai oleh rakyat. Namun itu masing-masing udah tanah Masyarakat. Sekarang Mereka seenak perutnya mengatakan itu tanah negara,” terangnya kepada reporter kami.

Masih menurut cerita Pak Jasni, selama ini dari kementerian kehutanan tidak pernah menetapkan sebagai hutan Negara.
” 74 tahun usia saya Selama ini Kementerian kehutanan belum pernah saya lihat memasang plang pengumuman itu tanah negara. Yang jelas itu tanah rakyat , sudah sekian ratus meter terjebur debur ombak Tunggul-tunggul kelapa yang ada di pantai itu “. Kenangnya bercerita.

Masih Menurut pak Jasni, ketika ditanyakan apakah pernah Diundang atau dijelaskan terkait IUPHKm, dirinya mengaku tidak pernah mendapatkan informasi terkait IUPHKm yang dimiliki oleh kelompok tani pencinta Mangrove yang diketuai oleh Azizi.
” Tidak pernah. Yang ada kurang lebih sebulan yang lalu dia manggil saya, bilang pak bapak mau jual tanah bapak yang di pantai sejarah? Dia mau beli tanah saya, disamping selebih tanah saya yang saya jual sama elfi haris itu nak, dia mau beli ada, tapi mahal sekali katanya. Dia mau seharga pisang goreng dia mau,” ungkapnya kepada kami.

Masih menurut cerita pak Jasni, pernah ada seseorang yang datang kepadanya dan bertanya kenapa tanah miliknya tidak diTORAkan Ke Pemkab. Walaupun dirinya tidak tahu yang dimaksudkan dengan Tora, dirinya mengaku tegas menolak.
” Ada orang yang datang menanyakan, Abang kenapa tanah Abang tidak diTORAkan ke Pemkab? Apa artinya diTORAkan itu nak?” tanya nya kepada reporter kami. Lalu reporter kami menanyakan siapa nama oknum yang dimaksud.

” ada namanya “B” panggilan nya “U”, dia bilang Wah sayang Abang ga diTORAkan nanti kena begitu begini. aku bilang, kalo itu dikerjakan dari jaman Datok nenek moyang itu asal muasal itu tanah saya beli sama yang punya sama ahli warisnya yang masih hidup, saya t*b*s jangan diundang Rakyat ini mau gila saya bilang. Saya t*b*s percayakan saya udah tua saya ini saya bilang gitu. jangan mentang-mentang kalian TSnya. saya jugapun TSnya “Z”, tapi gapernah itu saya dapat dari dia ” ungkapnya bercerita.

” Perlu Anak ketahui, saya bilang sama dia. Apapun ceritanya Pemerintah itu tidak semena-mena mengganti tanah rakyat sudah dipunyai oleh rakyat udah dikuasai oleh rakyat. Harus ada sosialisasi nya, ada kesepakatan, ada musyawarahnya tidak bisa main gitu gitu aja ” lanjutnya bercerita kepada reporter kami.

Sebelumnya Pada Selasa (8/12) reporter kami telah melakukan konfirmasi via seluler phone kepada Pak Azizi terkait tudingan warga yang selama ini merasa tidak pernah dilibatkan atau menerima Sosialisasi dari kelompok tani pencinta Mangrove akan Program Kerjanya hingga tudingan tidak adanya komunikasi, dibantah oleh pria yang mengaku sudah membentuk kelompok tani ini sejak 2003.
” Tudingan itu tidak benar, hampir semua warga yang tinggal di pantai sejarah ini adalah anggota HKm. Tudingan seperti itu wajar-wajar saja ” terangnya kepada reporter kami (AD).

Pos terkait