Anda masih netral, Saat Hak pilih tak didikte dan tak terkandung Polusi Politik Hitam

  • Whatsapp

Ditulis Oleh Arwan Syahputra
Pengamat muda Dari Universitas Malikussaleh

Terhitung sampai ke 17 April mendatang, pesta demokrasi 2019 Semakin mendekat sekitar H-28. Nuansa Demokrasi/perpolitikan semakin hangat, dan segenap masyarakat Indonesia dihadapkan dengan berbagai  sajian program, baik real bahkan fiktif, yang benar-benar program jelas, ataupun rekayasa bualan yang sulit terlaksana.
Sebanyak +- 250 Juta jiwa penduduk Indonesia akan merasakan Pesta Demokrasi 2019, Hak Memilih segenap masyarakat kembali di uji, tawaran mampir dan terus mengalir, dari berwarna instruktif atau pun persuasif.
Sebagaimana John Stuart Mill, dalam karyanya, On Liberty, merupakan pertama yang menyadari perbedaan antara kebebasan sebagai kebebasan bertindak dan kebebasan sebagai absennya koersi. 
Kebebasan memilih dalam pemilu 2019 adalah salah satu bentuk absen nya koersi dari kehidupan politik ditubuh rakyat, memilih dengan Cerdas, dengan waras, tanpa taqlid buta dan didikte oleh siapapun.
seperti yang termaktub juga secara tekstual maupun kontekstual Pembukaan UUD 1945, Kemerdekaan ialah Hak segala bangsa dan Oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Maka Memilih dengan persepsi sendiri merupakan bagian dari kemerdekaan bangsa, kemerdekaan individu yang dijamin didalam Kontitusi Negara, dan paksaan memilih dengan embel embel tertentu adalah pembatal rasio berdemokrasi, dan bagian dari penjajahan rasa tirani.
Netralitas dalam demokrasi juga masih Menjadi wujud nyata, dan bagian dari manifestasi Hak pilih yang di aplikasikan tanpa unsur paksaan. Yang pada intinya selama Hak pilih , tak terkena polusi politik Hitam maka anda masih bersifat netral dalam berdemokrasi.
Politik Bukanlah Idealisme Puitis tapi Kebijakan realis – Naguib mahfouz.

Pos terkait